Minimalist Parenting Itu Penting!

Mungkin karena sayang, seringkali para orang tua terpaksa menuruti keinginan buah hatinya untuk membelikan sesuatu. Tak jarang, karena orang tua yang malas meladeni anak kecil yang rewel, mereka terpaksa menuruti apapun yang diminta oleh si buah hatinya asal buah hatinya tidak menangis. Dan ini yang terjadi pada keponakan laki-laki saya. Usianya kira-kira baru 4-5 tahun tapi orang tuanya, yakni Kakak perempuan saya sendiri, seringkali tidak bisa bilang tidak kepadanya.

Biasalah, namanya juga anak kecil pasti yang diminta tidak jauh-jauh dari yang namanya jajan atau mainan. Apalagi keponakan saya ini kebetulan laki-laki, jadi mainan-mainan seperti mobil-mobilan, tembak-tembakan, dan berbagai mainan khas anak laki-laki seperti seolah-olah menjadi barang wajib yang harus dimiliki. Sayangnya para orang tua kerap kali tak tega, bila anaknya tidak punya cukup mainan. Salah satu alasannya mungkin mereka takut jikalau tumbuh kembang buah hati terganggu.

Yang namanya anak kecil tugasnya ya bermain, jadi mainan seperti dijadikan indikator sejauh mana kebahagiaan seorang anak sejak kecil. Mereka yang punya banyak mainan, dianggap memiliki kualitas masa kecil yang lebih dibanding mereka yang hanya punya jumlah mainan yang terbatas. Tapi realitanya, jauh panggang daripada api. Berdasarkan pada apa yang saya amati dari tingkah polah keponakan saya, saya bisa menyimpulkan bahwa hipotesa tersebut tidak secara absolut benar.

Dalam hidup minimalis, saya mengenal sebuah istilah yakni, minimalist parenting. Minimalist parenting adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan cara dan pola asuh keorangtuaan yang berbasiskan gaya hidup minimalis. Minimalist parenting mengajarkan kepada orang tua bagaimana cara agar pola asuh terhadap anak bisa disederhanakan tanpa harus meninggalkan kesan edukasi dan hiburan yang berguna bagi tumbuh kembang seorang anak.

Minimalis parenting inilah yang sudah beberapa minggu ini coba saya resapi. Apa yang salah dengan sistem pola asuh kakak perempuan saya. Keponakan laki-laki saya ini, coba Anda bayangkan, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah selalu minta untuk mampir ke sebuah kios pedagang mainan. Bukan sehari dua hari saja, tapi setiap hari! Meskipun harganya tidak terlalu mahal, tapi kalau diakumulasikan perbulannya ternyata lumayan juga jumlah uang yang dipakai untuk beli mainan ini.

Taruhlah jika setiap pagi keponakan saya itu membeli mainan seharga 5000 rupiah, coba saja dikalikan selama tiga puluh hari! Maka akan ketemu nominal sebesar kurang lebih 150 ribu, itupun belum termasuk uang saku sekolah yang sehari kadang bisa habis sampai 20 ribu. Sangat boros, untuk anak dengan usia dibawah 5 tahun, yang untuk sekedar pipis sendiri pun belum bisa :D Tapi ada satu hal menarik yang coba saya cermati dari kebiasaan sehari-hari keponakan saya ini.

Keponakan saya ini, sebenarnya bisa dibilang tidak nakal, biasa saja dan bukan tipe anak kecil yang bandel. Hanya saja, karena keinginannya sering dituruti, maka ia terbiasa untuk menuntut lebih dan sering menangis jika keinginannya tidak dituruti. Manja intinya. Ini semua tidak lepas dari kesalahan pola asuh kakak perempuan saya yang tidak mau ambil pusing dalam urusan mendidik anak. Alhasil ia selalu menuruti keinginan keponakan saya ini asal tidak rewel, jika suatu waktu ingin beli mainan.

Tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Bagi sebagian orang tua, ada yang merasa ketika anaknya tidak punya mainan yang cukup, justru merasa iba, kasihan atau bahkan nelangsa. Mereka, para orang tua tersebut beranggapan bahwa mereka terlalu ngirit demi kebahagiaan masa kecil anaknya. Takut kalau-kalau anaknya hanya punya sedikit mainan, sang anak jadi kurang bahagia. Tapi dari apa yang saya amati dari keponakan saya, faktanya justru berbanding terbalik dengan realita yang sebenarnya.

Semakin banyak mainan yang dimiliki keponakan saya ini, maka semakin tidak pernah puas adanya. Ia selalu ingin lebih banyak dan ingin lebih banyak lagi mainannya. Ia justru kelihatan sangat tak bahagia dengan mainan yang sudah ia miliki. Padahal jika merujuk pada anggapan bahwa semakin banyak mainan, maka semakin bahagia seorang anak, maka teori ini runtuh seketika. Dengan semakin banyak mainan yang dimiliki seorang anak, justru membuat semakin sedikit keterikatannya.

Ketika anak kita punya banyak mainan, ia akan cenderung cepat berganti-ganti dari satu mainan ke mainan lainnya. Padahal durasi bermain tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk kedekatan emosi dengan mainan yang ia miliki. Alhasil, ketika mereka punya banyak mainan, maka semakin sedikit potensi mereka untuk membangun kedekatan emosi pada salah satu mainan tertentu. Akhirnya mereka justru jadi cepat bosan dengan mainan yang sudah mereka miliki. Dan ingin beli baru lagi.

Kalaupun beli baru lagi, maka kejadiannya akan seperti lingkaran setan. Terus saja terulang. Jadi menurut saya, seorang anak kecil sebaiknya diberikan mainan secukupnya saja. Karena apa? Pertama, sebaiknya jangan belikan mainan yang sifatnya hanya sebatas sebuah hiburan belaka. Alangkah lebih baiknya belikan mainan yang sifatnya mengandung unsur edukasi. Sehingga sejak dini mereka secara tidak langsung dibiasakan dan diarahkan pada satu bidang, minat dan bakat tertentu. 

Misalnya, daripada Anda membelikan mainan yang hanya sekedar untuk main-main saja, coba anda belikan saja buah hati Anda mainan seperti piano mini. Harganya memang agak mahal. Tapi saya yakin selain bisa dipakai sebagai media hiburan, piano mini punya unsur edukatif di dalamnya, yakni secara tidak langsung mengarahkannya pada bidang, bakat dan minat dalam seni musik sejak dini. Kedua, jumlah mainan yang sedikit secara tidak langsung melatihnya membangun kedekatan emosi. 

Kedekatan emosi berpengaruh dalam mengajarkan nilai kehidupan, salah satunya adalah belajar menghargai & bersyukur dengan apa yang telah mereka miliki. Di internet, tentu Anda pernah melihat ada sebuah foto anak kecil di daerah konflik yang mati terbunuh bersimbah darah dalam kondisi memeluk sebuah boneka. Bisa jadi, boneka itu hanya satu-satu mainan yang mereka punya, tapi lihatlah! Mereka bertaruh nyawa dan tetap memeluk bonekanya seperti memeluk adik mereka sendiri.